Jurnal Refleksi Dwimingguan 1
- Nurmala Sari

- Sep 17, 2023
- 3 min read
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Salam guru hebat
Saya adalah Nurmala Sari
Calon Guru Penggerak (CGP) Angkatan 9
SMP Negeri 3 Kosambi
Kabupaten Tangerang
Jurnal ini akan berisi paparan saya dalam kegiatan aksi nyata dalam modul 1.1 tentang pemikiran Ki Hajar Dewantara. Aksi nyata merupakan siklus terakhir dalam alur Pendidikan Guru Penggerak yang mengambil akronim MERDEKA. Aksi Nyata memberikan ruang bagi Bapak/Ibu CGP menerapkan pengetahuan yang telah diperoleh dalam satu rangkaian modul. Aksi Nyata dimaksudkan sebagai proses pengembangan profesionalisme berkelanjutan, di mana ia dilihat sebagai kesatuan antara proses pembelajaran dan implementasi. Dengan demikian, aksi nyata perlu dijalankan secara terus menerus, bahkan hingga Program Pendidikan Guru Penggerak telah diselesaikan.
PERASAAN SELAMA MELAKUKAN PERUBAHAN DI KELAS
Sejujurnya ada dua perasaan yang muncul dalam benak. Pertama adalah khawatir. Saya merasa cemas, takut, atau gelisah perihal apakah saya mampu menjadi pendidik yang dispesifikasi oleh seorang Ki Hajar Dewantara? Karena hal-hal yang menjadi ciri-ciri seorang pendidik dalam pemikiran Ki Hajar Dewantara merupakan kapasitas pendidik yang luar biasa. Bukan sekadar guru yang mengajar. Oleh karena itu, Ki Hajar Dewantara membedakan konsep pendidikan dengan konsep pengajaran.
Selama pekan pertama Pendidikan Guru Penggerak (PGP) dalam modul 1.1, saya merasa seperti pendidik yang gagal karena pembelajaran yang sebelumnya saya lakukan masih konvensional, yakni pembelajaran berpusat pada guru (teacher center). Padahal, seharusnya pusat pembelajaran terdapat pada murid. Hal itu menjadikan murid pasif, enggan bertanya, sulit menyampaikan pendapat, dan tidak mandiri.
Saya sangat tergugah dan belajar banyak dari pemikiran Ki Hajar Dewantara sehingga kemudian saya memperbaiki pembelajaran yang telah saya lakukan. Pemikiran-pemikiran Ki Hajar Dewantara membuka mata dan wawasan saya tentang betapa pentingnya menerapkan pendidikan menuntun daripada hanya sekadar mentransfer ilmu. Sesuai semboyan Tut Wuri Handayani, saya pun harus memberi contoh atau menjadi teladan yang baik untuk memupuk budi pekerti murid. Saya tergugah untuk menjadi pendidik yang lebih baik. Yang bukan sakadar mengajar, melainkan menjadi inspirasi murid. Bukan hanya mentransfer ilmu, melainkan menuntut mereka dengan membersamai sesuai kodrat alam dan kodrat zamannya. Saya bergembira karena wajah-wajah antusias murid muncul ketika belajar dengan melaksanakan pembelajaran yang berpihak/berpusat pada murid.
IDE ATAU GAGASAN YANG TIMBUL SEPANJANG PROSES PERUBAHAN
Ide dan gagasan yang timbul selama proses perubahan adalah mengubah cara pembelajaran yang awalnya teacher center menjadi berpusat pada murid (student center) dengan menerapkan nilai-nilai aktif, kolaboratif, mandiri, dan berani.
PEMBELAJARAN DAN PENGALAMAN DALAM BENTUK CATATAN PRAKTIK BAIK
Perencanaan
Sebelum melakukan aksi nyata penerapan pemikiran Ki Hajar Dewantara saya melakukan tahap perencanaan terlebih dahulu. Saya berdiskusi dengan rekan guru lain dan menyiapkan perangkat pembelajaran berupa salindia dan LKPD yang menarik. Dua media itu saya rancang menggunakan aplikasi Canva yang merupakan alat bantu desain. Tidak lupa juga saya menyiapkan pembagian kelompok yang tiap kelompoknya diisi oleh siswa dengan ragam kemampuan yang berbeda. Hal itu berlandaskan hasil pembelajaran pada pertemuan sebelumnya.
Pelaksanaan
Pelaksanaan kegiatan pembelajaran dimulai dengan berdoa sebagai implementasi nilai religius. Setelah itu, saya mulai menjelaskan tujuan pembelajaran sampai dengan penjelasan singkat langkah pengerjaan LKPD bagi tiap-tiap kelompok. Hampir semua murid tampak antusias dan bersemangat karena dalam LKPD tersebut, saya menyertakan sebuah permainan sederhana yang masih berkaitan dengan mata pelajaran bahasa Indonesia, yakni pencarian kata. Setelah durasi pengerjaan LKPD selesai, setiap kelompok melakukan presentasi di depan kelas dan kelompok lain akan memberikan tanggapan bila hasil pengerjaan kelompok yang tampil masih ada kekeliruan. Hal tersebut saya lakukan untuk menciptakan ruang diskusi bagi mereka sehingga mereka berlatih dalam menyampaikan pikiran dan pendapat. Pada akhir pembelajaran, saya memberikan penguatan terhadap hasil yang mereka lakukan. Setelah kegiatan pembelajaran selesai, murid selalu dibiasakan untuk berdoa.
Refleksi
Refleksi ini merupakan temuan berupa kendala dan cara penyelesaiannya supaya pembelajaran selanjutnya lebih baik dan lebih bermakna. Kendalanya adalah masih ada beberapa murid yang tidak mau bekerja sama dengan temannya, mereka hanya diam saja atau mengandalkan teman serta masih ada beberapa murid rendah diri saat presentasi di depan kelas. Menutup wajahnya dengan LKPD dan berbicara dengan volume suara yang kecil. Tantangan bagi siswa yang sudah mampu adalah untuk sedikit menurunkan sisi dominan mereka dalam kelompok supaya siswa yang kurang mampu memiliki kesempatan yang sama dalam berkolaborasi.
Solusi yang bisa saya lakukan adalah memberikan pembimbingan bahwa dalam pekerjaan kelompok, setiap individu harus memiliki peran dan punya kontribusi. Selain itu, saya mencoba untuk membiasakan mereka dalam menyampaikan pendapat atau pikiran di depan kelas untuk melatih keberanian mereka dalam presentasi.
Demikian refleksi yang telah saya tuliskan.
Mohon kritik dan saran konstruktif untuk perbaikan pada jurnal selanjutnya. Terima kasih.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh


Comments