Konsep 4-3-9: Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-Nilai Kebajikan sebagai Individu dan Pemimpin
- Nurmala Sari

- Feb 16, 2024
- 7 min read
Bagaimana filosofi Ki Hajar Dewantara dengan Pratap Triloka memiliki kaitan dengan penerapan pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin?
Pratap Triloka merupakan semboyan pendidikan Indonesia yang dicetuskan oleh Ki Hajar Dewantara. Secara implisit, tiga semboyan itu berkaitan dengan figur seorang pemimpin. Pratap Triloka mencerminkan hal baik yang semestinya dimiliki oleh seorang pemimpin.
Pertama, Ing Ngarsa Sung Tulada bisa ditafsirkan bahwa seorang pemimpin harus bisa memberi dan menjadi teladan apalagi seorang guru. Guru adalah figur yang digugu dan dituru. Digugu artinya menjadi tempat menimba ilmu atau tempat bertanya. Ditiru artinya diikuti segala tindak tanduknya.
Kedua, Ing Madya Mangun Karsa bisa diartikan bahwa seorang pemimpin ditengah kesibukannya, ia harus juga mampu membangkitkan atau menggugah semangat. Pemimpin perlu paham bahwa dirinya adalah obor bagi berjalannya kegiatan dalam sebuah alur struktural. Konteksnya dalam peran guru adalah guru menjadi pemimpin pembelajaran. Guru perlu menyalakan ruang-ruang yang baik bagi peserta didik sebagai fasilitator dalam proses pembelajaran. Guru bukan lagi satu-satunya sumber belajar. Guru tak perlu lagi membakar diri laksana lilin yang menerangi orang lain.
Ketiga, Tutwuri Handayani yang berarti sebagai pemimpin pembelajaran, seorang guru mendukung dalam pengembangan potensi siswa. Di belakang memberi dorongan, guru perlu memahami setiap siswa sesuai kodrat alam dan kodrat zamannya. Setiap siswa pasti memiliki potensi yang berbeda dan beragam. Untuk memaksimalkan itu, sebagai pemimpin pembelajaran, guru mesti paham bagaimana memanfaatkan potensi mereka selama proses pembelajaran sehingga mereka berkembang secara maksimal.
Dengan demikian, Pratap Triloka memiliki kaitan dengan penerapan pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin. Seorang pemimpin harus bisa memberikan teladan, membangun motivasi/semangat, dan memberikan dukungan.
Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?
Nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita mempengaruhi prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan. Jika nilai-nilai yang dianut positif, seperti mandiri, reflektif, kolaboratif, dan berpihak pada murid, keputusan yang diambil akan tepat, benar, dan dapat dipertanggungjawabkan. Sebaliknya, jika nilai-nilai yang dianut tidak sesuai dengan kaidah agama dan norma, keputusan yang diambil lebih cenderung hanya benar secara pribadi dan tidak sesuai harapan kebanyakan serta tidak berbasis nilai-nilai kebajikan yang universal.
Bila dikaitkan dengan pandangan Ki Hajar Dewantara dan filosofi Pratap Trilokanya, tentu nilai-nilai yang diharapkan tertanama dalam diri seorang pemimpin di sekolah adalah seorang pemimpin dengan nilai-nilai positif. Karena nilai-nilai itu yang akan menjadi teladan bagi bawahan dan siswanya di sekolah. Guru pun demikian sebagai pemimpin pembelajaran. Karena dengan nilai-nilai yang positif itu akan berpengaruh pada cara mereka mengambil keputusan yang efektif dan berdampak pada pendidikan yang berpihak pada murid.
Bagaimana materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan ‘coaching’ (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil? Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut? Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi ‘coaching’ yang telah dibahas pada sebelumnya.
Materi pengambilan keputusan berkaitan erat dengan kegiatan coaching (bimbingan) dalam proses pembelajaran. Proses coaching dapat membantu dalam menguji dan mengevaluasi keputusan yang telah diambil, serta mempertimbangkan apakah keputusan tersebut efektif dan masih menimbulkan pertanyaan-pertanyaan. Coaching juga dapat membantu dalam memastikan bahwa pengambilan keputusan dilakukan berdasarkan pada nilai-nilai kebajikan dan prinsip-prinsip yang sesuai. Hal ini sesuai dengan pandangan Ki Hajar Dewantara dan filosofi Pratap Triloka yang menekankan pada pengambilan keputusan berbasis pada nilai-nilai positif dan kebajikan, serta meminimalkan kesalahan dalam proses pengambilan keputusan, terutama dalam menghadapi dilema etika. Dengan demikian, coaching dapat menjadi sarana untuk memastikan bahwa pengambilan keputusan dilakukan secara bertanggung jawab dan berdampak positif, serta membantu dalam mempertimbangkan pertanyaan-pertanyaan yang muncul terkait dengan keputusan yang telah diambil
Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan suatu keputusan khususnya masalah dilema etika?
Kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan keputusan khususnya masalah dilema etika. Guru yang memiliki kompetensi pengembangan diri coaching, nilai-nilai guru, dan kompetensi sosial emosional akan lebih efektif dalam mengambil keputusan yang berpihak pada murid dan mempertimbangkan aspek etika dan moral. Hal tersebut akan menghindarkan seorang guru dalam mengambil keputusan dengan tergesa-gesa tanpa pertimbangan yang matang. Sementara itu, pengambilan keputusan yang berkaitan dengan etika dan moral memerlukan pendekatan yang berbasis nilai-nilai kebajikan, seperti cinta dan kasih sayang, kebenaran, keadilan, kebebasan, persatuan, toleransi, tanggung jawab, dan penghargaan akan hidup. Pengambilan keputusan yang bijak rasanya perlu menjalankan teori 4-3-9, yakni berlandaskan 4 paradigma, 3 prinsip, dan 9 langkah keputusan.
Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik?
Seperti yang telah diuraikan di aras, nilai yang dianut seseorang bisa berdampak pada bagaimana ia mengambil keputusan. Begitu pun seorang pendidik atau guru. Diskusi sebuah studi kasus akan mematangkan seorang pendidik dalam melihat permasalahan dari berbagai kaca mata. Dengan itu pula, seorang pendidik mampu membedakan permasalahan yang ada. Apakah dilema etika atau bujukan moral?
Maka dari itu, dengan nilai-nilai yang dianutnya tersebut, seorang pendidik akan terdorong untuk menentukan keputusan masalah dilema etika atau bujukan moral dengan keputusan yang tepat sasaran, benar dan meminimalisasi kemungkinan kesalahan pengambilan keputusan yang dapat merugikan semua pihak khususnya peserta didik.
Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.
Pengambilan keputusan yang tepat bisa diartikan keputusan yang terbaik untuk semua. Keputusan yang tidak berpihak pada satu orang atau satu pihak saja. Keputusan tepat itu merupakan keputusan dengan manajemen risikon paling kecil. Dengan kata lain, keputusan yang manfaatnya paling besar untuk banyak pihak. Dengan manajemen risiko yang paling kecil atau manfaatnya paling besar akan berdampak pada lingkungan yang kondusif. Tidak menimbulkan pro-kontra atau kesenjangan yang tinggi bagi berbagai pihak. Suasana kondusif akan menciptakan lingkungan yang positif untuk melakukan perbaikan atas kasus dilema etika atau bujukam moral yang pernah terjadi yang kemudian menimbulkan rasa aman dan nyaman bagi semua pihak.
Apakah tantangan-tantangan di lingkungan Anda untuk dapat menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Adakah kaitannya dengan perubahan paradigma di lingkungan Anda?
Sebuah keputusan yang diambil sebagai sebuah aksi tentu akan menimbulkan reaksi berbagai pihak. Respons terhadapnya tentu berbeda-beda apalagi bila dikaitkan dengan nilai-nilai yang setiap individu pegang dalam diri dan hidupnya. Pro dan kontra itu tentu menjadi tantangan. Namun, sebuah keputusan tetap harus diambil untuk menyelesaikan masalah baik dilema etika maupun bujukan moral tanpa bisa menyenangkan semua pihak. Yang mesti diutamakan adalah pengambilan keputusan itu mesti berpihak pada murid. Perubahan paradigma harusnya tidak menjadi kendala dalam menjalankan pengambilan keputusan karena yang terpenting prosesnya berbasis nilai-nilai kebajikan.
Apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita? Bagaimana kita memutuskan pembelajaran yang tepat untuk potensi murid kita yang berbeda-beda?
Dalam memutuskan pembelajaran yang tepat untuk potensi murid-murid yang berbeda-beda, seorang pendidik harus mempertimbangkan kebutuhan dan kemampuan individu murid, serta memastikan bahwa pembelajaran yang disediakan sesuai dengan kebutuhan dan potensi mereka. Seorang pendidik juga harus mempertimbangkan nilai-nilai kebajikan dan prinsip-prinsip yang terkait dengan pengambilan keputusan yang berbasis pada nilai-nilai kebajikan, seperti keadilan, kebenaran, dan kasih sayang.
Dalam konteks ini, seorang pendidik dapat menggunakan pendekatan pembelajaran yang berbasis pada kebutuhan dan potensi individu murid, seperti berdiferensiasi. Pendekatan ini akan membantu seorang pendidik dalam memastikan bahwa pembelajaran yang disediakan sesuai dengan kebutuhan dan potensi murid-muridnya, serta memastikan bahwa pembelajaran yang disediakan berpihak pada nilai-nilai kebajikan yang dianut. Dengan demikian, pengambilan keputusan yang tepat dalam pengajaran akan memerdekakan murid-murid kita.
Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya?
Pengambilan keputusan yang dilakukan oleh seorang pemimpin pembelajaran dapat memiliki dampak yang signifikan pada kehidupan dan masa depan murid-muridnya. Keputusan yang tepat dan berpihak pada murid akan memerdekakan mereka, memungkinkan mereka untuk berkembang secara holistik, dan mencapai potensi terbaik mereka. Hal ini sesuai dengan pandangan Ki Hajar Dewantara dan filosofi Pratap Triloka, yang menekankan pentingnya memberikan tauladan, membangun motivasi, dan memberikan dukungan kepada murid-murid. Secara berkesinambungan, semua itu akan terinternalisasi dalam diri murid selama mereka menjalani proses pendidikan. Enam tahun di sekolah dasar dan enam tahun di sekolah menengah. Proses pembelajaran yang baik dan berpihak pada murid akan membentuk karakter murid yang positif. Hal baik yang terinternalisasi itu tentu akan menjadi bekal bagi murid dalam menjalani kehidupan mereka.
Apakah kesimpulan akhir yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya?
Kesimpulan akhir dari pembelajaran modul materi ini adalah bahwa pengambilan keputusan yang tepat dalam konteks pendidikan sangat penting untuk menciptakan lingkungan pembelajaran yang positif, kondusif, aman, dan nyaman bagi murid-murid. Pengambilan keputusan yang berbasis pada nilai-nilai kebajikan, seperti keadilan, kebenaran, dan kasih sayang, akan memerdekakan murid-murid dan membantu mereka mengembangkan potensi mereka yang berbeda-beda.
Pembelajaran modul materi ini juga terkait erat dengan modul-modul sebelumnya, seperti modul tentang kompetensi sosial emosional, coaching, dan filosofi pendidikan. Kemampuan untuk mengelola dan menyadari aspek sosial emosional, serta kemampuan untuk memberikan coaching dan memahami filosofi pendidikan, akan membantu seorang pendidik dalam mengambil keputusan yang tepat dan berdampak positif pada murid-muridnya.
Sejauh mana pemahaman Anda tentang konsep-konsep yang telah Anda pelajari di modul ini, yaitu: dilema etika dan bujukan moral, 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Adakah hal-hal yang menurut Anda di luar dugaan?
Secara keseluruhan, konsep-konsep yang dipelajari dalam modul ini sangat penting dalam konteks pendidikan dan dapat membantu seorang pendidik dan pemimpin di sekolah dalam mengambil keputusan yang tepat dan berdampak positif pada murid-muridnya.
Hal yang menurut saya diluar dugaan adalah dalam proses pengambilan keputusan untuk sebuah kasus ternyata bisa sekompleks itu. Konsep 4-3-9 ini ternyata langkah yang bijak sebelum keputusan diambil. Proses itu dilakukan untuk menghasilkan keputusan terbaik.
Sebelum mempelajari modul ini, pernahkah Anda menerapkan pengambilan keputusan sebagai pemimpin dalam situasi moral dilema? Bilamana pernah, apa bedanya dengan apa yang Anda pelajari di modul ini?
Saya pernah berada dalam situasi dilema etika. Umumnya paradigma keadilan lawan rasa kasihan terhadap murid. Bedanya, ketika itu saya tidak memiliki pemahaman konsep 4 paradigma, 3 prinsip, dan 9 langkah pengambilan keputusan. Konsep tersebut sangat membantu sekali bagi seorang kepala sekolah sebagai pemimpin dan guru sebagai pemimpin pelajaran dalam mengambil keputusan berbasis nilai-nilai kebajikan.
Bagaimana dampak mempelajari konsep ini buat Anda, perubahan apa yang terjadi pada cara Anda dalam mengambil keputusan sebelum dan sesudah mengikuti pembelajaran modul ini?
Konsep ini tentu saja banyak berdampak pada saya dalam mengambil keputusan. Perubahan yang terjadi adalah dengan mengikuti langkah proses dari konsep 4-3-9. Apalagi didukung dengan kegiatan coaching dan memperhatikan kompetensi sosial emosial. Akibatnya, keputusan yang diambil adalah keputusan yang arif dan bijaksana untuk mewujudkan situasi kondusif, nyaman, dan aman bagi lingkungan sekitar dan menghindarkan diri dari konflik kepentingan yang bisa saja terjadi.
Seberapa penting mempelajari topik modul ini bagi Anda sebagai seorang individu dan Anda sebagai seorang pemimpin?
Sebagai seorang individu, mempelajari topik ini akan membuka wawasan dalam menghadapi sebuah masalah atau kasus. Mengidentifikasinya dengan baik dari berbagai sudut pandang. Apalagi individu itu punya peran sebagai pemimpin pembelajaran. Kasus dilema etika dalam proses pembelajaran pasti banyak sekali karena guru menghadapi anak dengan beragam karakter. Pengambilan keputusan dengan konsep 4-3-9 akan membawa guru pada trek menuju merdeka belajar bagi murid sehingga murid merasa dihargai sebagaiamana pun potensi yang dimilikinya. Pada akhirnya, wujud belajar dengan situasi kondusif, aman, dan nyaman bisa tercipta sesuai harapan.
Sebagai seorang pemimpin yang membawahi banyak kepala tentuk konsep ini akan mendukungnya menjadi pemimpin yang bijaksana. Mempelajari topik modul ini dapat membantu seorang pemimpin dalam mengembangkan kemampuan dalam mengambil keputusan yang tepat dan berdampak positif pada lingkungan sekitar serta membantu dalam memahami nilai-nilai kebajikan yang dianut dalam situasi moral dilema.


It's awesome, keep fighting bu mala!!