Jurnal Refleksi Dwimingguan 2
- Nurmala Sari

- Sep 20, 2023
- 6 min read
Assalamualaikum…
Salam guru hebat
Saya adalah Nurmala Sari
Calon Guru Penggerak (CGP) Angkatan 9
SMP Negeri 3 Kosambi
Kabupaten Tangerang
Ini merupakan paparan sebagai jurnal dwimingguan saya dalam mengikuti kegiatan Pendidikan Guru Penggerak (PGP). Refleksi ini masih tetap menggunakan formula 4P, yaitu Peristiwa, Perasaan, Pembelajaran, dan Penerapan. Jurnal kali ini saya buat setelah mempelajari dan memahami modul 1.2 tentang nilai dan peran guru penggerak.
PERISTIWA
Mempelajari modul 1.2 dalam PGP membuka pemahaman saya bahwa segala sesuatu itu terjadi karena ada faktor. Sebuah hal terjadi tidak begitu saja terjadi. Ini berkaitan dengan 3 prinsip guru penggerak, yakni tergerak, bergerak, dan menggerakkan.
Setiap manusia bisa tergerak. Dalam modul ini ada 3 faktor yang memengaruhi manusia tergerak, yaitu cara kerja otak, kebutuhan manusia, dan tahap tumbuh kembang anak. Otak bekerja dengan dua cara, yakni berpikir cepat dan berpikir lambat. Dua cara kerja otak manusia itu dibekali dengan empat otak yang meliputi otak reptil, otak mamalia, otak primata, dan otak luhur manusia. Yang saya dapat pelajari dari dua sistem berpikir ini adalah fungsinya dibutuhkan pada situasi berbeda. Rasanya tak selalu manusia akan terus berpikir cepat dan tak selalu manusia akan terus berpikir lambat. Tuhan sungguh luar biasa menciptakan otak manusia yang lebih baik dari otak makhluk hidup lain. Mengapa ada tiap elemen otak itu tentu ada fungsinya dan setiap elemen pasti saling mendukung dalam menjalankan fungsinya. Otak reptil yang berperan dalam semua kegiatan yang bersifat otomatis. Tanpa perlu perintah, ia menjalankannya. Otak mamalia untuk merespons hal spontan. Meski demikian, letaknya yang ada di dalam, tidak serta-merta lepas kendali karena masih ada otak primata dan otak luhur manusia yang melindunginya.
Selanjutnya, bagaimana seorang bergerak baik secara umum bagi semua manusia maupun secara khusus bagi seorang guru penggerak. Seseorang bergerak ternyata dipengarui oleh faktor teori pilihan dan motivasi intrinsik. Dr. William Glasser dalam Teori Pilihan mengusulkan bahwa manusia mampu mengendalikan diri. Kontrol perilaku seseorang hanya dapat dikendalikan oleh dirinya sendiri. Otak dan pikiran kita memungkinkan kontrol perilaku dari dalam dirinya. Maka dari itu, diperlukan pendidikan yang menuntun supaya kontrol diri atas tiap manusia bisa memilih hal ke arah yang baik. Menuntunnya sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat. Kontrol diri sebagai manusia adalah kedekatannya dengan Tuhan, diri sendiri, sesama manusia, dan alam semesta. Prinsip-prinsip yang berkaitan dengan hal itu akan menjadi pagar untuk individu memilih kontrol dirinya dalam bersikap. Begitu pun sebagai anggota masyarakat, yang menjadi kontrol diri adalah norma yang berlaku di masyarakat supaya bijaksana dalam menjalani kemerdekaan.
KBBI mengartikan motivasi sebagai dorongan yang timbul pada diri seseorang secara sadar atau tidak sadar untuk melakukan suatu tindakan dengan tujuan tertentu. Akan tetapi, dunia psikologi memberi makna yang lebih sejalan dengan program guru penggerak, yakni usaha yang dapat menyebabkan seseorang atau kelompok orang tertentu tergerak melakukan sesuatu karena ingin mencapai tujuan yang dikehendakinya atau mendapat kepuasan dengan perbuatannya. Sebagai pendidik memancing motivasi intrinsik dalam diri siswa adalah sebuah keharusan. Motivasi itu harus terus dipupuk dan dijaga agar keberlangsungan pendidikan berlangsung secara terus menerus. Teori pilihan yang terwujud dalam kontrol diri bila dikombinasikan degan motivasi intrisik manusia yang baik tentu akan merupa tindakan-tindakan luhur dari seorang manusia.
Khusus bagi seorang guru penggerak, bagaimana ia bergerak juga dipengaruhi oleh harapan dalam mewujudkan profil pelajar Pancasila dan nilai-nilai guru pengerak. Profil pelajar Pancasila merupakan ikhtisar yang berisi budi pekerti luhur. Satu sama lainnya saling menopang untuk mewujudkan karakter murid yang baik yang mencerminkan jiwa Indonesia yang maju. Nilai-nilai yang terkandung dalam setiap dimensi profil pelajar Pancasila merupakan harapan kelak peradaban yang dimiliki bangsa ini. Nilai bisa diartikan sebagai sifat-sifat penting yang ada pada diri individu. Nilai bisa pula dikaitkan dengan mutu atau kualitas dari sesuatu. Kemudian, nilai itu membedakan satu orang dengan orang lain. Seorang guru penggerak sepatutnya memiliki nilai yang membedakan ia dari guru-guru lain yang kemudian dengana nilai itu, ia tergerak untuk belajar, bergerak untuk melakukan perubahan, dan menggerakkan orang-orang di sekitarnya. Lima nilai yang mesti ada dalam diri CGP adalah (1) berpihak pada murid, (2) reflektif, (3) mandiri, (4) kolaboratif, serta (5) inovatif. Kelima nilai itu secara menyeluruh akan membentuk pribadi guru penggerak yang kompeten. Semoga saya dan rekan-rekan CGP di sini, bisa menginternalisasikan setiap modul untuk menjadi guru penggerak sesuai harapan.
Prinsip terakhir dari CGP adalah menggerakkan. Bagaimana menggerakkan manusia? Ada 3 hal yang memengaruhinya, yaitu berpikir strategis dan menguatkan lingkaran pengaruh, diagram identitas gunung es, dan peran guru penggerak. Untuk mampu menggerakkan orang lain, tentu diri harus memiliki pengaruh yang bisa ditafsikan dengan mempunyai “kuasa” dan kepercayaan diri untuk menjalankan inisiatif perubahan pada dimensi lain. Itu bisa dilakukan dengan berpikir strategis, yakni berpikir maju, mampu merespons dengan cepat terhadap tren. Mereka adalah para pengambil risiko yang mengidentifikasi dan memanfaatkan peluang. Mereka memiliki kemampuan untuk menyeimbangkan perhatian mereka antara masalah operasional sehari-hari dan inisiatif strategis jangka panjang. Berpikir strategis mungkin sama dengan visioner. Ketika orang memiliki pemikiran jangka panjang yang kemudian hal itu merupakan perbaikan, ia akan mau belajar untuk mampu. Kelak sudah mampu, ia akan percaya diri untuk menularkan kemampuannya itu kepada orang lain hingga orang itu mau turut serta dalam langkahnya. Ini yang disebut memengaruhi.
PERASAAN
Bagaimana perasaan saya Ketika mengikuti pembelajaran modul 1.2 ini? Bila berlandaskan roda emosi Plutchik, saya merasa kagum dan terkesima. Hal itu disebabkan dalam alur eksplorasi konsep, halaman modulnya ternyata banyak sekali. Pada setiap halaman, isinya merupakan hal-hal baru yang tentu menambah wawasan saya. Yang kemudian, pada akhirnya membuat saya terkesima dan tersadarkan bahwa segala sesuatu itu ternyata punya faktor. Manusia bisa tergerak karena ada faktor. Manusia bisa bergerak karena ada faktor. Manusia bisa menggerakkan manusia lain pun karena ada faktor. Faktor-faktor yang melatarbelakangi ini yang ternyata harus dipelajari untuk kemudia akan memudahkan kita untuk melebarkan langkah atau mengepakkan sayap dari sebuah kegiatan yang kita maksudkan baik untuk banyak orang, untuk organisasi, ataupun untuk skala yang lebih besar. Faktor-faktor ini seolah merupa baut atau mur yang kita gunakan untuk merangkai sebuah benda. Bila kita paham, bauta tau mur ini tentu akan kita kencangkan supaya benda yang sedang kita rangkai bisa berdiri tegak bahkan beroperasi dengan baik. Meskipun demikian, tentu ada kerikil-kerikil kecil ketika saya berusaha tergerak, bergerak, dan menggerakkan. Aspeknya pun belum pada sesuatu yang wah. Namun, hal-hal kecil yang dieksplorasi dan dielaborasi dengan dalam bisa bertahan lebih permanen. Saya meyakini itu untuk meredam rasa khawatir yang muncul ketika mulai bergerak dan menggerakkan. Semoga semua lancer dan terus berkembang.
PEMBELAJARAN
Banyak hal dalam modul ini yang bisa menjadi pembelajaran bagi saya. Beberapa di antaranya adalah memahami tahap perkembangan anak, psikososial, dan aksioma-aksioma. Sebagai seorang pendidik, memahami tahap perkembangan anak sungguh diperlukan. Ini akan membantu kita dalam memberi tuntunan yang tepat sesuai usianya karena sejalan dengan Ki Hajar Dewantara, pendidikan yang tepat adalah pendidikan yang menuntun sesuai kodratnya. Tahap perkembangan menurut KHD ini sungguh telah disesuaikan dengan kodrat usia anak sehingga kita paham dalam merancang pelaksanaan pendidikan yang seperti apa yang tepat untuk anak sesuai prinsip berpihak pada anak.
Selanjutnya, mengenai psikososial. Psikososial adalah salah satu topik yang dibahas dalam cabang ilmu Psikologi. Secara garis besar, istilah psikososial dipakai untuk melihat kondisi yang terjadi pada individu. Psikososial adalah istilah yang mengacu pada bagaimana kesehatan mental, pikiran, dan perilaku seseorang (psiko) berkaitan dengan kebutuhan atau tuntutan masyarakat (sosial). Meski teori ini digagas oleh Erik, ternyata Erik dipengaruhi oleh teori Freud. Namun, Erikson lebih menjabarkan mengenai dampak pengalaman sosial terhadap kehidupan seseorang di sepanjang hidupnya. Ia membahas bagaimana interaksi sosial dan hubungan berperan dalam perkembangan dan pertumbuhan manusia. Bicara perkembangan ternyata ruang lingkupnya sungguh luas. Tidak terbatas pada fisik ataupun kognitif, lebih dalam dari itu adalah perihal psikis atau mental apalagi perkembangan mental ini berkaitan erat dengan peran interaksi sosial. Dalam 8 tahap perkembangan menurut Erik, ada dua elemen atau faktor yang memengaruhinya, yakni konflik dan pengembangan identitas ego.
Pembahasan aksioma-aksioma dalam modul ini membuka mata saya bahwa hal-hal yang coba saya kontrol terhadap murid adalah hal keliru. Murid sebagai manusia dan sama seperti gurunya punya kontrol atas dirinya. Dalam pendidikan yang menuntun, sosok guru dalam dunia pendidikan adalah panduan atau teladan dengan perannya sebagai fasilitator pembelajaran. Hal itu dapat membantu siswa untuk menghasilkan pembelajaran mereka sendiri. Seorang siswa harus dapat menemukan kegunaan atau manfaat dari apa yang telah dipelajarinya. Dengan demikian, tugas yang diberikan kepada siswa harus membangkitkan minat serta meningkatkan kemampuan untuk memilih.
PENERAPAN
Saya memulai dengan merefleksi diri bahwa ternyata saya belum menjadi pendidik yang dispesifikasi oleh pemikiran KHD secara utuh. Oleh karena itu, sebagai manusia dan pendidik yang tergerak, saya berusaha untuk terus menginternalisasi nilai dan peran guru penggerak yang dijabarkan dalam modul ini dengan baik. Kemudian, ketika bergerak, saya berusaha mewujudkan pendidikan yang berpihak pada murid. Berpihak pada murid berarti saya selaku guru penggerak untuk selalu bergerak dengan mengutamakan kepentingan murid. Ini dilakukan dengan cara mempertimbangkan kebutuhan murid, menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, dan mewujudkan dunia belajar yang murid harapkan. Ini menjadi alasan kenapa peran guru adalah sebagai fasilitator. Untuk mewujudkan keberpihakan saya pada murid, hal yang sudah saya lakukan adalah melaksanakan pembelajaran yang berpusat pada murid. Pembelajaran di kelas tidak lagi monoton dengan siswa lakukan secara individu, tetapi dibagi dalam ruang kelompok. Hal itu membuka kesempatan seluas-luasnya untuk mereka mengeksplorasi diri selama pembelajaran berlangsung sehingga mereka aktif dalam menyampaikan pendapat atau bertanya serta berbagi peran. Lalu, saya mengikuti pelatihan untuk meningkatkan kemampuan dalam menggunakan media pembelajaran dengan tampilan yang ceria sesuai perkembangan teknologi. Saya pula akan mengipaskan motivasi intrinsik murid dengan menyelipkan ice breaking sederhana dan seru untuk membenamkan pikiran bahwa belajar itu menyenangkan. Ketika dalam tahap menggerakkan, saya memfungsikan cara berpikir strategis guna memengaruhi dan menguatkan lingkaran pengaruh kepada orang lain khususnya murid dan rekan guru. Meskipun lingkaran ini masih dalam bentuk kecil, saya akan terus berusaha membesarkan diameter lingkaran tersebut sehingga kolaborasi bisa diwujudkan dalam skala besar yang berdampak pada perbaikan proses pembelajaran di sekolah.
Semoga paparan ini bermanfaat dan menginspirasi.
Terima kasih.


Comments